ilustrasi : Istockphoto.com |
Otak depan digunakan untuk berpikir dan otak belakang digunakan untuk menghafal. Otak depan sejajar dengan dahi kepala sedangkan otak belakang terletak di bawah pusat kepala. Otak selalu mengalami perubahan tergantung seseorang mau mengasah dan merawatnya atau tidak. Kadang ada seseorang yang punya ingatan kuat tapi hafalan nya lemah, atau memiliki hafalan yang kuat tetapi lambat untuk mengingat. Tetapi ada pula orang yang memiliki hafalan dan ingatan yang sama-sama kuat. Dan tentu saja tergantung posisi seseorang. Para ulama memiliki ingatan yang kuat karena mereka senang menghafal, para tokoh filsafat umumnya memiliki daya pikir yang kuat karena ilmu yang mereka dalami. Ilmu yang didapat oleh seorang murid baik dari guru atau buku yang dibaca maka akan tersimpan ke dalam 2 otak tadi. Setiap orang memiliki tingkat kekuatan hafalan dan ingatan yang berbeda-beda. Dan ada beberapa tingkatan hafalan yaitu;
Orang yang memiliki hafalan yang kuat ketika mendengar atau melihat sesuatu mereka akan langsung mengingatnya. Ketika memaparkan hasil hafalan nya tidak ada yang salah adapun tokoh yang memiliki hafalan yang bagus yaitu Imam Syafi’I dan imam Bukhari.
Orang yang memiliki hafalan sedang yaitu orang yang ketika memaparkan hafalan nya ada kemungkinan benar ada kemungkinan salah. Mereka memiliki ingatan dalam waktu tertentu, jika tidak diulang-ulang maka ingatannya bisa hilang.
Orang yang memiliki hafalan lemah orang yang ketika memaparkan hafalan nya selalu salah. Ketika mendengar atau membaca sesuatu mereka tidak terekam dalam kepalanya. Dan hafalan nya akan mudah hilang meskipun sering diulang-ulang.
Pelajar yang memiliki hafalan yang lemah sering mengeluh yang bisa disebabkan suatu penyakit :
Karena bermaksiat hafalan menjadi tumpul, efek dari bermaksiat bukan saja membuat Allah menjadi murka tetapi juga menggerogoti hafalan pelaku maksiat itu sendiri. Ilmu itu cahaya dan cahaya Allah tidak akan menyinari pelaku maksiat. Imam Syafi’I pernah mengadu kepada gurunya karena hafalan nya menjadi lemah dan dosa yang pernah dilakukan Imam Syafi’I adalah mencicipi kurma untuk mengetahui manis atau tidak sebelum membelinya. Maksiat mata dengan melihat yang haram, maksiat telinga dengan mendengar sesuatu yang dilarang, maksiat mulut dengan mengejek, memfitnah, juga mengonsumsi barang haram maka dosa kecil penyebab hafalan menjadi pudar. Jika ada orang yang bermaksiat namun hafalan nya masih kuat maka jika di kemudian hari ada seseorang yang menanyakan persoalan kepadanya maka ia pasti tidak akan membuat penanya puas dengan jawabannya. Akibat keberkahan ilmu sudah tercabut karena perbuatan maksiat itu.
0 komentar:
Posting Komentar